Launching Kampung KB Tingkir Tengah

Adi Setyo Pramono, S.E., M.M

RILISJATENG.COM– Kelurahan Tingkir Tengah resmi dinobatkan menjadi Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) dalam rangka percepatan penurunan stunting. Menandai launching, Pj. Wali Kota berkenan untuk memukul gong yang telah disediakan. Kegiatan yang juga dalam rangkaian Program Super Tangguh tersebut diinisiasi BKKBN Prov. Jateng yang bekerja sama dengan Pemkot Salatiga melalui DP3APPKB. Sebanyak 50 orang peserta yang terdiri dari Pokja KKB Tingkir Tengah, Kutowinangun Lor, dan Pengurus Dashat serta Pulutan yang masuk dalam keluarga resiko stunting tersebut digelar di Pendopo Kelurahan Tingkir Tengah, Senin (27/2). Turut hadir Pj. Ketua TP PKK, Persagi, Kepala DP3APPKB, Camat Tingkir, segenap lurah dan peserta yang hadir.

Sub Koordinator Analisis Dampak Kependudukan BKKBN Prov. Jateng, Adi Setyo Pramono, S.E., M.M dalam laporannya menyampaikan tujuan kegiatan yang terlaksana. “Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan kampung KB dan mengelola dashat dalam rangka penurunan stunting”. Pihaknya juga menuturkan bahwa prevalensi angka stunting di Jawa Tengah di angka 20,9%, sehingga masih diperlukan upaya komprehensif dan integratif untuk menurunkannya.

Berita Lainnya

Selain itu BKKBN juga mendukung dibentuknya Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) melalui pemberdayaan berbasis masyarakat di Kampung KB. Program tersebut merupakan upaya bersama dalam memenuhi gizi seimbang bagi keluarga risiko stunting melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang dapat dipadukan dengan sumber dari mitra lain.

Pj. Wali Kota Salatiga, Drs. Sinoeng N. Rachmadi, M.M memberikan beberapa usulan yang dapat menjadi pengingat untuk mengatasi stunting. “Kesempatan isi saya usul, bikin vocal grup yuk. Minimal 10 orang maksimal 15 orang dengan genre aransemen musik berbeda-beda sesuai dengan selera. Hal ini akan memberikan sebuah memori dan sampai kapanpun orang akan mengingat betapa pentingnya program KB. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu cara soft diplomasi, edukasi bagaimana melakukan pendekatan bukan hanya bimtek dan sosialisasi, tetapi juga lewat kesenian. Sehingga dengan seni ini bisa ‘membalung sumsum’ atau memotivasi dari dalam”. Kesempatan tersebut juga dilakukan demo masak dengan gizi yang telah ditentukan untuk memberikan sajian makanan yang sehat.(RLS)

Pos terkait